You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan berkaitan dengan literasi, seperti budaya membaca, menulis sampai literasi digital. Selain itu, buku ini juga membahas berbagai pikiran tentang buku dan prosesi didalamnya. Tulisan-tulisannya bersifat reflektif sehingga mampu menemani kita untuk berpikir. Buku ini adalah kado milad 3 tahun Gaza Library Publishing. Semoga bermanfaat.
Setiap orang memiliki momen-momen terbaik dalam hidupnya. Diantara sekian momen itu ada yang berhubungan dengan masa belajarnya. Bagi penulis buku ini, di antara momen terbaik dalam hidup dan belajarnya, adalah waktu yang ia habiskan selama enam bulan di Program Kaderisasi Ulama Universitas Darussalam Gontor. Dalam enam bulan tersebut penulis menjalani hidup kembali sebagai santri, tapi di level pascasarjana. Di sana ia bisa ber-shuhbah dengan para guru, berkawan dengan orang-orang shalih dan berilmu, membaca buku-buku pemikiran, serta mendapatkan banyak materi dari para pengajar INSISTS, MIUMI, Program Pascasarjana UNIDA Gontor, serta para alumni Gontor yang telah menjadi tokoh masyarakat. Serpihan berbagai pengalaman yang dijalaninya tersebut kemudian direkam dalam catatan-catatan pendek. Tentu bukan hal yang hebat, tapi insya Allah bermanfaat. Dengan membacanya para alumni bisa bernostalgia, sedang yang bukan alumni, akan turut merasakan suasana kejiwaan yang penulis dapatkan di sana.
“…Teori yang dipergunakan Umasangaji di buku ini tidak sepi untuk dikoreksi, sebagaimana juga analisis yang dikembangkannya. Sebagai sebuah upaya berandil mencintai bangsanya, buku rekaman gagasan jiwa muda penulisnya layak direplikasi oleh siapa pun…” (Yusuf Maulana ~ esais, pernah aktif di KAMMI) *** Ideasi Gerakan KAMMI merupakan buku yang mencoba merangkum catatan dan diskursus tentang KAMMI dengan menawarkan ideasi untuk KAMMI. Ideasi Gerakan KAMMI menjelaskan tentang tradisi kultural, elaborasi muslim pembelajar, intelektual organik KAMMI, konsepsi dan insersi Muslim Negarawan, KAMMI dan Sipil Keumatan, KAMMI dan Masyarakat Otentik, transformasi KAMMI, historis kelahiran KAMMI, resiliensi gerakan KAMMI, sepenuhnya Indonesia, Sastra KAMMI, Resistansi Biologis KAMMI.
Pada setiap organisasi atau lembaga, kita mengenal apa yang sering disebut promosi keanggotaan hingga prosesi kenaikan jenjang atau jabatan. Begitu pula dalam gerakan Islam Tarbiyah, ada yang dinamakan promosi kader dakwah, ada prosesi kenaikan jenjang. Sederhananya, itulah taqwim. Di era yang penuh dengan keragaman pemikiran dengan arus yang begitu derasnya, taqwim menjadi hal yang begitu penting untuk terus menjaga fikrah kader dan asholah dakwah itu sendiri. Buku ini akan mengupas tentang hal tersebut khususnya taqwim tarbawi, bagaimana melakukannya, dan bagaimana menjadi seorang muqawwim (orang yang men-taqwim) yang baik dan benar. Buku ini juga memberitahukan kepada kita bahwa sebenarnya taqwim itu (hal) biasa.
Perubahan tak hadir dari kemewahan. Kemewahan tak bakal ciptakan gelora kebangkitan. Andai dengan kemewahan semua tugas menciptakan kejayaan itu terpenuhi, Nabi Muhammad akan menerima uluran tangan kaumnya untuk negosiasi sekaligus rekonsiliasi. Tapi Nabi memilih disebut pemecah belah persaudaraan kabilah. Manusia insaf cemas digulung gelombang yang telanjur datang. Tapi ia tak patut hanya berdiam, menyerah dengan mata memejam. Bila gelombang menerjang, arungi lewat pikiran agar gulungannya terhenti. Atau ketika mantap, bidaslah sampai arahnya membalik lahirkan gelombang baru. Pikiran dan tindakan yang besarlah yang akan membebaskan diri di pusara gelombang keterjajahan. Maka, sejatinya revo...
Proses perkembangan pembaharuan dalam Islam tidak bisa lepas dari peran tokoh-tokoh pembaharuan itu sendiri. Di antara tokoh pembaharu Islam yang cukup berpengaruh dalam skala internasional, termasuk di Indonesia, adalah Syeikh Muhammad Abduh, tokoh yang memiliki karakter yang khas dalam pemikiran pembaharuannya. Ide pembaharuan Muhammad Abduh pada dasarnya adalah mengembalikan Islam sebagaimana yang berlaku pada zaman salaf. Adapun jalan yang ditempuhnya untuk membangkitkan umat Islam adalah mencerdaskan mereka dengan ilmu pengetahuan melalui pendidikan dan pengajaran. Syeikh Muhammad Abduh sendiri mendapatkan inspirasi dari gurunya: Sayid Jamaluddin al-Afghani. Nama lain yang juga sering d...
Hari ini gerakan mahasiswa bukan lagi pemain utama. Ali-alih menjadi penyambung lidah rakyat. Dengan berkembangnya teknologi informasi, masyarakat dapat berserikat menolong diri mereka sendiri. Baik dengan gerakan yang bersifat charity, sampai yang berupa advokasi. Dalam kondisi terjepit seperti ini, kebesaran gerakan mahasiswa bahkan mulai kehilangan kepercayaan dari mahasiswa sendiri. Munculnya gerakan-gerakan model komunitas yang tidak ribet, tapi punya impact yang nyata membuat pengaderan gerakan mahasiswa yang ideologis semakin tidak diminati. Dalam kondisi seperti ini, apakah gerakan mahasiswa akan menemukan kembali jalan kontribusinya, atau justru menjadi nyaman berada dalam barisan khusus di istana? Kita tidak tahu. Mari membaca buku ini, agar gerakan mahasiswa tak takluk.
Sederhana, buku ini sederhana. Hadir sebagai hasil renungan di kehidupan yang penat. Mari menepi sejenak. Sejenak saja. Setiap kita merindukan kebahagiaan, bukan yang fana. Namun yang sebenarnya. Buku ini hadir dengan sajian yang ringan. Akan dipandu oleh seorang anak yang sedang belajar mengarungi kehidupan. Memotret berbagai tema dalam satu bingkai. Tasawuf. Membincang konsep kebahagiaan di dalam Islam.
“...Buku di tangan Anda ini tak melulu bicara berbagi wawasan melahirkan aksara berupa buku. Malah saya memandang buku ini sebagai berbagi prinsip-prinsip dasar bagi seniman buku. Ya, agar yang berlahiran bukan para pemahat aksara gila cuan, hormat, jabatan, atau kedudukan. Yang berlahiran dari para pembaca buku ini justru sosok-sosok kamil yang mau berproses agar bisa bermanfaat lewat tulisan. Sebagaimana kopi, buku ini perlu melibatkan banyak indra agar tampak aroma harum atau pesona indahnya. Dan titik awal itu adalah kerendahhatian diri untuk belajar berproses. Buku ini memadai sebagai tuturan awal dari yang masih belajar kepada yang ingin terus belajar...” (Yusuf Maulana ~ Pensyarah Samben Library)
Apakah dunia ini memang tidak adil? Apakah kita diciptakan di dunia memang untuk menjadi orang yang kalah dan gagal? Jika mereka selaku anak-anak cerdas saja menyerah, bagaimana dengan saya yang hanya remukan rengginang di dalam toples yang tak pernah dilirik? Apakah saya juga harus menyerah? Tunggu dulu! Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan. Tenangkan sejenak pikiran kita. Pertanyaan-pertanyaan ini kerap muncul ketika manusia sedang menghadapi ujian. Tanpa disadari, pertanyaan tadi adalah murni persepsi kita yang sedang terbawa emosi (negatif). Selama kita bisa mengendalikan emosi dan persepsi—yang asalnya adalah pikiran—, selama itu juga kita masih bisa bertindak waras. Sayangnya, k...